Bicara mengenai hati

Hujan, meyuburkan tanah. Dengannya dapat menumbukan pepohonan. Dengannya pula menjadi sebab banyak kebaikan yang terjadi di muka bumi. Tak dipungkiri, siram air hujan sangat dibutuhkan untuk kehidupan. Begitu pula dengan kita sebagai manusia. Kita yang terbuat dari tanah, hati kita juga butuh penyiraman. Saat tidak mendapatkan air yang cukup, tanah akan kering dan rusak. Pun begitu hati kita, bukan dengan air, melainkan dengan Al-Quran dan sunnah.

Bicara mengenai hati, bicara mengenai anggota tubuh yang kita tidak dapat mengaturnya. Sesuatu yang kita punya, tetapi diluar kendali kita. Kita bisa mengatur mata, lisan, dan tangan, tapi tidak dengan hati kita.



Ketika tertimpa musibah hati kita menjadi sedih. Dapatkah kita mengatur hati untuk tidak sedih? Ketika senang, bisakah kita menahan hati kita untuk tidak senang? Tentu tidak. Yang bisa kita atur adalah anggota tubuh yang nampak. Sama seperti saat marah, kita tak bisa mengatur hati untuk tidak marah. Secara teknis yang bisa kita atur adalah tangan, mulut, mata dan anggota tubuh lain agar tidak mengikuti nafsu amarah tersebut. Adapun hati, kita hanya bisa merasakannya.


Disadari atau tidak, kenyataan ini menunjukan kalau kita adalah mahluk yang lemah. Sesuatu yang kita miliki sendiri namun tidak dapat mengaturnya secara penuh. Sebagai contoh nyata, hari ini mungkin kita senang mendapatkan keutamaan dari Allah, uang sebanyak 100 ribu misalnya. Minggu depan, jika kita mendapatkannya lagi dengan nilai nominal yang sama, bisa jadi kesenangan di hati berbeda, kenapa? Karena hati memanglah bukan kita yang mengaturnya, melainkan Allah.


Allah-lah yang mengatur hati kita bekerja. Seorang badui (suku arab pedalaman), secara bijak ia mengakui adanya Allah tanpa pikir jauh. “Aku mengakui adanya Allah, karena aku tahu ada yang mengatur hatiku”, kurang lebih begitu ia mengatakannya. Sungguh pengakuan sederhana yang menunjukkan fitrah manusia. Pengakuan sederhana yang dapat menyentuh hati manusia yang masih memiliki nurani.


Untuk itulah Rasulullah mengajarkan kita sebuah doa agar hati kita selalu dicondongkan kepada kebaikan. 


يَـــامُـقَلِّبَ الْـقُلُـــــــــــوْبِ، ثَـبِّتْ قَـلْبِيْ عَلَى دِيْنِكَ
“Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu.” 
-H.R. At-Tirmidzi, Ahmad, dan al-Hakim-


Hal ini menjadi sebuah bukti, bahwa jika kita bisa mengatur hati kita sendiri pasti kita lakukan sendiri. Tetapi Rasul mengajarkan untuk meminta kepada Allah untuk mengokohkan hati diatas kebaikan. Terdapat pula hadits lain yang menunjukan bahwa kita tidak dapat mengatur secara penuh hati kita.


ِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدِ اهْتَدَى، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَك 
“Sesungguhnya setiap amalan mempunyai suatu semangat, dan pada setiap semangat memiliki kejenuhan. Maka barangsiapa kejenuhannya (mengarah) kepada sunnahku, sungguh dia telah mendapat petunjuk, dan barangsiapa kejenuhannya (mengarah) kepada selain (sunnahku), sungguh telah binasa.” 
-Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Abi ‘Âshim, Ath-Thahâwy, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibbân dan Al-Baihaqy dalam Syu’abul Îmân. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albany dan Syaikh Muqbil-


Andaikata kita bisa mengatur hati, tentulah akan kita atur agar selalu semangat beribadah. Tetapi nyatanya? Tidak. Yang bisa kita atur hanyalah tubuh kita. Saat berat di hati, kita hanya bisa memaksakan kaki kita untuk melangkah ke masjid, untuk melakukan suatu ibadah.


Begitu juga ketika hati merasakan gundah gulana. Setiap orang pasti pernah merasakan kegundahan di dalam hatinya, perasaan risau dan tidak nyaman. Namun kehidupan yang terasa sempit tersebut, kita tidak dapat mengatur sesuka kita. Karena perasaan sesak itu datangnya dari Allah.


Bermacam cara orang menghadapi kerisauan hati. Tak jarang, sebagian orang pergi ke tempat yang jauh untuk menenangkan hatinya yang risau, naik gunung misalnya. Ia sangka dengan melihat pemandangan yang indah, mampu menghilangkan kerisauan dihatinya. Padahal, pemandangan yang indah hanya menghibur mata saja, belum tentu hatinya.


Sebagian lain lagi, ketika gundah ia lampiaskan dengan batang rokok bahkan mabuk-mabukan. Ia sangka dengan tembakau yang ia bakar dan mabuk dapat melapangkan dadanya. Mungkin benar, terdapat rasa nikmat di mulutnya, tapi tak akan terasa nikmat di dadanya.


Sebagian lagi yang lain, ketika gundah gulana pergi ke tempat perzinahan. Ia sangka dengan berzina dapat menghiburnya, padahal tidak. Berzina hanya akan memberikan hiburan fisik, namun tidak untuk hiburan hati.


Bahkan kemaksiatan tidak akan mendatangkan kelapangan di hati. Karena hati ini milik Allah, ketika hati ini disempitkan, harusnya kembali kepada Allah, bukan bertambah jauh dariNya. Ketika bertambah jauh, bertambah pula hati itu menjadi sempit. Ketika semakin bermaksiat kepada Allah, semakin pula hati itu menjadi gundah gulana. 


وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan Mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta".
- Toha: 124-
Bahkan dalam ayat lain, orang-orang yang berpaling dari dzikir kepada Allah, setan akan dijadikan sebagai temannya (Qorin). Ketika setan berkarib, seseorang tidak akan mendapatkan apa yang ia inginkan kecuali kerugian.

وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَاناً فَهُوَ لَهُ قَرِين
Dan barangsiapa berpaling dari pengajaran Allah Yang Maha Pengasih (Al-Quran), Kami Biarkan setan (menyesatkannya) dan menjadi teman karibnya.
- Az Zukhruf : 36-


Maka tak perlu heran, ketika ada orang yang gundah gulana namun melakukan kemaksiatan, maka ia tidak akan pernah merasa puas. Yang dikira dengan maksiat membuat bahagia, ternyata tidak. Maka selanjutnya, justru ia akan terus diatas kemaksiatan, karena ia terus mencari apa yang ia cari. Bagaimana bisa ia berhenti saat akalnya mengatakan “(Kemaksiatan) ini yang membahagiakanku”, sementara hatinya mengatakan “Tidak, belum kudapati”.

Berpaling dari Allah justru menambah hati semakin sempit dan gundah. Sebaliknya, dengan amal sholih hidup menjadi lebih baik. 


مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُون
"Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami Berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami Beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan".
- An Nahl 97- 

Didalam ayat ini Allah mengunakan lam taukid dan nun taukid (فَلَنُحْيِيَنَّهُ ) yang menunjukkan penekanan dan kesungguhan (di dalam bahasa arab, diantara penekanan/ taukid dalam kalimat adalah dengan menggunakan lam taukid di awal kata dan nun taukid di akhir kata).
Penjelasan ayat diatas adalah pasti sepasti-pastinya akan Allah hidupkan orang yang beramal sholih dengan kehidupan yang baik. Amal solih-lah yang menjadikan hidup semakin baik. Namun, sebagian orang menyangka bahwa dengan bermaksiat akan membuatnya bahagia. Tidak. Semakin jauh dari Allah, maka akan semakin keras hati, semakin keras hati, ia tidak akan merasakan lapangnya dada, bahkan ia akan merasakan kehidupan yang sempit. 



Bicara mengenai hati, adalah bicara mengenai anggota tubuh yang kita tidak dapat mengaturnya. Sesuatu yang kita punya, tetapi diluar kendali kita. Ketika kegundahan dan kesempitan mendapatkan hati kita, bukan menjauh dari Allah agar hidup menjadi lapang kembali. Melainkan semakin mendekat kepadaNya.

Lalu apa yang diajarkan Rasul ketika kita merasakan kegundahan hati dan kehidupan yang sempit?


Sebagai tuntunan bagi umatnya Rasul mengajarkan sebuah doa berikut: 

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ، وَنُوْرَ صَدْرِيْ، وَجَلاَءَ حُزْنِيْ، وَذَهَابَ هَمِّيْ
Allaahumma innii ‘abduka, wabnu ‘abdika, wabnu amatika, naashiyatii biyadika, maadhin fiyya hukmuka, ‘adlun fiyya qodhoo-uka, as-aluka bikullismin huwalaka, sammayta bihi nafsaka, aw anzaltahu fii kitaabika, aw ‘allamtahu ahadan min kholqika, awis ta’ tsar ta bihi fii ‘ilmil ghoibi ‘indaka, an taj’alal qur-aana robbii’a qolbii, wa nuuro shodrii, wa jalaa-a huznii, wa dzahaaba hammii.

“Ya Allah! Sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu (Adam) dan anak hamba perempuanMu (Hawa). Ubun-ubunku di tanganMu, keputusan-Mu berlaku padaku, qadhaMu kepadaku adalah adil. Aku mohon kepadaMu dengan setiap nama (baik) yang telah Engkau gunakan untuk diriMu, yang Engkau turunkan dalam kitabMu, Engkau ajarkan kepada seseorang dari makhlukMu atau yang Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisiMu, hendaknya Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku.
- HR. Ahmad: 1/391, dishahihkan oleh Al Al Bani -


Rasul mengatakan barang siapa yang mendapatkan gundah gulana dihatinya, lalu membaca doa ini, akan Allah hilangkan kegundahan dari hatinya.


Dalam doa ini ada beberapa hal yang menjadi poin penting dalam berdoa. Poin yang pertama yakni pengakuan diri kepada Allah.


Secara tersurat, dalam doa diatas Rasul mengajarkan kita untuk mengakui bahwa kita adalah hamba Allah, anak dari hamba Allah, segala urusan dan takdir Allah berjalan pada kita, adil hukum Allah untuk kita. Maka kembalilah pada Allah, tidak ada daya upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Sadari bahwa kita lemah. Semakin jauh kita dari Allah, semakin menjadi sulit kehidupan kita. Allah-lah Penggenggam kehidupan kita. KepadaNya lah tempat kita meminta dan bersandar.


Poin yang kedua adalah keutamaan berdoa dengan menyebut nama-nama dan sifat terpuji Allah.


Rasul mengajarkan memohon dengan nama-nama Allah sebagai perantara, hal ini disebut bertawassul (berdoa atau meminta kepada Allah dengan suatu hal sebagai perantara). Bertawassul dengan nama-nama Allah dibenarkan dalam syariat Islam (sebagian orang yang kurang berilmu bertawassul dengan kuburan, dengan orang-orang shalih yang telah meninggal, hal ini dilarang dalam syariat Islam karena termasuk syirik).


Bahkan di dalam Al-Quran Allah memerintahkan untuk menyebut dengan nama-namaNya Yang Baik ketika berdoa: 


وَلِلّهِ الأَسْمَاء الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُواْ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَآئِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
"Dan Allah Memiliki Asma-ul Husna (nama-nama yang terbaik), maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyalahartikan nama-nama-Nya. Mereka kelak akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan".
- Al A’raf: 180 -


Meminta dengan seluruh nama Allah merupakan sebab dikabulkannya doa. Di dalam hadits ini menjelaskan dua sebab dikabulkannya doa, yang pertama menyadari bahwa kita lemah, yang kedua meminta dengan nama-nama Allah.

Dengan dua sebab tersebut, kita meminta Al-Quran menjadi obat hati (Engkau jadikan Al-Qur’an sebagai penenteram hatiku, cahaya di dadaku, pelenyap duka dan kesedihanku). Namun, bagaimana bisa Al-Quran dapat menjadi cahaya di dada jika tidak pernah dibaca? Bagaiman bisa a Al-Quran menjadi penyemi hati jika tak pernah dihafal? Bagaimana bisa Al-Quran menghilangkan kesedihan sementara kita tidak pernah menyentuh Al-Quran?

Maka menghilangkan kesedihan dengan kembali pada Al-Quran. Dengan membacanya, mempelajari tafsirnya, memaknai kandungannya serta menghafalnya. Tidak pada diskotik, tidak pula kafe atau tempat maksiat lainnya. Tempat-tempat tersebut tidak akan memberikan kebahagiaan, sebaliknya akan menjadikan kita tambah haus, semakin tudak puas.

Rasul mengajarkan Al-Quran sebagai penyemai hati, sebagai pembahagia hati. Maka ketika bersedih kembalilah pada Al-Quran. Bacalah Al-Quran. Jadikan Al-Quran sebagai penghibur, berdendanglah dengan Al-Quran. Baca dengan bacaan dan lantunan yang bagus. Berhiburlah dengan Al-Quran. Karena Allah telah berfirman 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاء لِّمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ
"Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Quran) dari Tuhan-mu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman".
- Yunus: 57 -


Layaknya orang yang meminum obat dan berdoa, akan terasa sebagai paket lengkap bila kita tambah bacaan Al-Quran kita dengan doa yang diajarkan oleh Rasulullah. Komplit.


Berdoa saja tanpa mengonsumsi obat, tak akan sembuh suatu penyakit. Seandainya sembuh dengan takdir Allah, tentu akan berbeda dengan orang yang berdoa namun juga berusaha dengan meminum obatnya. Berdoa kepada Allah akan dihilangkan kesedihannya, namun berusaha juga, minum obatnya juga, Al-Quran.


Allah maha benar dan tidak pernah menyelisihi janji. Jika Allah telah menetapkan bahwa Al-Quran adalah obat untuk hati, maka lebih dari cukup untuk kita yakini bahwa Al-Quran bisa mengobati kesedihan.


Al-Quran bisa mengobati kesempitan dada kita. Ketika tidak sembuh, jangan salahkan Al-Quran, tapi salahkan penyakitnya. Namanya obat, besar kecilnya dosis tergantung besar kecilnya penyakit.


Belum tentu hati menjadi tenang hanya dengan membaca satu halaman Al-Quran. Penyakit di dada kita, bisa jadi berhitung bulan, atau bahkan tahun. Bertahun tak kenal baca Al-Quran, baca satu juz pun belum tentu langsung sembuh.


Al-Quran sebagai obat adalah suatu keyakinan, namun penyakit di dada tentulah berbeda-beda. Mungkin terdapat seorang yang membaca satu halaman sudah merasakan nikmatnya Al-Quran, kenapa? karena ia biasa mengasah, biasa mengobati. Tapi lain cerita jika tidak pernah membaca dan belajar Al-Quran sama sekali.


Al-Quran itu obat dan hati kadang berpenyakit. Ketika penyakit hati parah, maka dosis obat yang diberikan haruslah ditambah pula. Lalu siapa yang mengetahui besar kecilnya dosis ini? Kita sendiri yang tahu.


Kitalah yang sedang mambaca Al-quran yang tahu dan merasakan sendiri diri kita. Terkadang, saat membaca Al-quran kita hanya sekedar membaca, asal melakukan. Akhirnya, tidak bisa menenangkan hati. Maka solusinya adalah baca lagi, resapi lagi.


أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
"Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an ataukah pada hati mereka terdapat gembok-gembok penghalangnya?”
- QS. Muhammad : 24 -


Hati kita berada pada tangan Allah. Allah yang membolak balikkan hati kita. Kala gundah, jangan semakin jauh dari Allah. Jadikan Al-Quran itu kebutuhan, bukan hanya sekedar pengisi kekosongan. Namun sebagai kebutuhan untuk hati kita, menyirami dada kita, untuk mengobati diri kita.


Ketika Al-Quran sudah menjadi kebutuhan, maka kita tidak akan bermudah-mudahan untuk meninggalkannya. Kita akan merasakan kedamaian dengan lantun ayat Al-Quran. Ayat yang tiap hurufnya dibaca dilipat gandakan pahalanya menjadi 10 kali lipat. Ayat yang dibaca akan menjadi syafian (pemberi syafaat dan pertolongan) bagi yang membacanya.


Maka luangkanlah waktu kita untuk membaca Al-Quran. Semoga Allah menyembuhkan penyakit hati kita, melapangkan hati kita dan menjadikan Al-Quran sebagai penghibur kita.Aamiiin.



-----------------------
Materi diambil dari Kajian Ta'lim rutin setiap Selasa sore di Mushola Al Fath, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB. Selasa 29 September 2015. Pemateri: Ustadz Abdul Jabbar Hafidzahullah


0 Response to "Bicara mengenai hati"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel